Proses Hukum Sengketa Merek Cap Kaki Tiga Dianggap Janggal


TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA—Proses hukum sengketa merek Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga berlogo Lukisan Badak, saat ini bergulir di Mahkamah Agung. Sejumlah kejanggalan terjadi dalam upaya hukum luar biasa (Peninjauan Kembali), setelah sebelumnya Mahkamah Agung memenangkan Wen Ken Drug PTE Ltd (Singapura), pemilik sah merek tersebut pada tahap kasasi.


Kuasa Hukum Wen Ken Drug , Yosef B. Badeoda dari ASP Law Firm mengatakan saat ini perkara Peninjauan Kembali dengan nomor 106 PK/Pdt/2012 masih bergulir di Mahkamah Agung. Dalam perjalanan kasus ini perdata ini, menurut dia, sempat terjadi beberapa kali pergantian anggota majelis Peninjauan Kembali.


“Tidak hanya berganti anggota majelis, namun tiba-tiba ada terjadi penambahan anggota majelis,” katanya dalam rilis yang diterima Tribun, Senin (18/2/2013).


Menurut Yosef, saat pertama kali didaftarkan upaya hukum Peninjauan Kembali, pimpinan Mahkamah Agung sudah menunggu tiga anggota majelis yaitu Abdul Kadir Mappong ( (Ketua Majelis sekaligus pembaca ketiga), Suwardi (anggota/pembaca pertama) dan Abdul Gani Abdullah (anggota/pembaca kedua).


Namun, pada awal Januari, Suwardi mendadak diganti oleh hakim agung lain Mahdi Soroinda.


Dalam perjalanannya, pada Januari 2013 lalu, tiba-tiba saja susunan majelis berganti dan anggotanya dirombak total. Kelima hakim agung yang masuk menjadi majelis Peninjauan Kembali adalah Abdul Gani (pembaca pertama), Mahdi Soroinda Nasution (pembaca kedua), Soltoni Mohdally (pembaca ketiga) Nurul Elmiyah (pembaca keempat) dan Valerie JL Krieekhoff (pembaca kelima).


“Tidak jelas apa motif perubahan dan penambahan anggota majelis perkara perdata biasa ini,” kata Yosef.


Ia berharap, kejanggalan dalam proses Peninjauan Kembali hanya soal administrasi biasa saja yang terjadi di Mahkamah Agung dan bukan karena faktor eksternal . “Apalagi jika karena ada upaya-upaya intervensi yang sudah mewarnai perkara ini sejak awal,” paparnya.


Kasus ini bermula saat Wen Ken Drug sebagai pemilik sah merek larutan penyegar Cap Kaki Tiga dengan logo Lukisan Badak sejak 1930 memutus kerja sama dengan PT Sinde Budi Sentosa pada 4 Februari 2008. Langkah ini diambil karena perusahaan milik Tjioe Budi Yuwono dinilai tidak memenuhi komitmen pembayaran royalti dan tidak laporan mendetail jumlah produksi atas kerja sama yang sudah dijalin sejak 1978.


Menolak pemutusan kerja sama itu, Sinde Budi Sentosa menggugat Wen Ken Drug ke Pengadilan Negeri Bekasi. Namun gugatan ini kemudian ditolak, langkah pemutusan hubungan kerja sama oleh Wen Ken Drug dinilai sesuai aturan hukum. Proses hukum ini selanjutnya bergulir hingga tahap kasasi di Mahkamah Agung.


Majelis kasasi MA kemudian juga menolak gugatan Sinde Budi Sentosa. Dalam Putusan No. 1758 K/Pd.Sus/2010, langkah Wen Ken Drug memutuskan kerja sama dinilai tepat dan telah sesuai prosedur hukum.


Penggunaan merek itu secara sepihak dinilai melanggar hukum. Dengan dasar putusan ini kemudian, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan putusan No, HK.0006.4.411.05.11.882 tertanggal 24 Mei 2011 yang isi membatalkan persetujuan pendaftaran merek oleh Sinde Budi Sentosa.


Selain perkara hukum di Mahkamah Agung, dalam rapat kerja Kepala Polri Jenderal Timur Pradopo dengan Komisi Hukum DPR pekan lalu juga terungkap adanya upaya kriminalisasi terhadap distributor larutan penyegar Cap Kaki Tiga yang diproduksi PT Kinocare Era Kosmetindo, pihak yang ditunjuk Wen Ken Drug untuk memproduksi dan memasarkan produk ini di wilayah Indonesia.



You're reading an article about
Proses Hukum Sengketa Merek Cap Kaki Tiga Dianggap Janggal
This article
Proses Hukum Sengketa Merek Cap Kaki Tiga Dianggap Janggal
can be opened in url
http://beritamenata.blogspot.com/2013/02/proses-hukum-sengketa-merek-cap-kaki.html
Proses Hukum Sengketa Merek Cap Kaki Tiga Dianggap Janggal

Title Post: Proses Hukum Sengketa Merek Cap Kaki Tiga Dianggap Janggal
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Author: Berita menata

Thanks for visiting the blog, If any criticism and suggestions please leave a comment

0 komentar:

Poskan Komentar